| Remaja dan Keluarga |
| Senin, 06 September 2010 00:00 | |||
|
Suatu hari di sebuah Taman Kanak-Kanak. Seorang anak menangis. Hari itu adalah hari pertama ia pergi ke sekolah. Dia menangis, karena inilah pertama kalinya ia terpisah 'lama' dengan ibunya. Proses adaptasi dengan lingkungan barunya memang butuh waktu. Apalagi untuk seorang anak yang tidak terbiasa terpisah dengan keluarga, terutama sang ibu. Seiring dengan waktu, anak tersebutpun akan tumbuh besar menjadi seorang muda atau remaja. Akhir masa anak-anak (Late childhood) berlangsung pada usia 6 tahun hingga tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Pada masa awal dan masa akhir anak-anak ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi perkembangan sosial anak.
Perubahan-perubahan pada kehidupan orangtua, contohnya kedua orangtua yang bekerja, perceraian, single parent, sangat mempengaruhi hakekat interaksi orangtua dengan anak pada masa akhir anak-anak. Ketika tuntutan pengasuhan mulai berkurang biasanya para ibu akan lebih memilih kembali karir atau memulai suatu kegiatan baru. Hal ini menyebabkan waktu yang harusnya lebih diberikan untuk membimbing dan mengasuh anak malah digunakan untuk kegiatan pengembangan karir khususnya bagi para ibu. Sebaliknya akhir masa anak-anak sering disebut dengan ”masa berkelompok”. Usia remaja mulai ditandai dengan minat terhadap aktivitas bersama teman-teman. Setelah ikut kegiatan, keinginan untuk diterima di kelompoknyapun meningkat. Biasanya pada masa ini, remaja sudah tidak begitu berminat lagi untuk menghabiskan waktunya untuk urusan keluarga. Baik urusan membantu orangtua berberes rumah, sampai sekedar berjalan-jalan dengan ayah, ibu atau adiknya sendiri. Bahkan beberapa dari mereka sudah merasa risih kalau masih dijemput ke sekolah oleh ayahnya. Takut dibilang 'anak papi' atau 'anak mami'. Belum lagi padatnya kegiatan yang diikuti di luar rumah, menyebabkan remaja seperti tidak punya waktu lagi untuk keluarganya. Seringkali, disinilah muncul konflik antara remaja dan keluarga, terutama orangtuanya. Apakah kamu sebagai remaja pernah mengalaminya?
TEMPAT TINGGAL YANG BERJAUHAN Cerita para remaja di atas adalah cerita mereka yang masih tinggal dengan orangtuanya. Lalu, bagaimana cerita anak muda yang tinggal di kota atau tempat yang berbeda dengan orangtua ataupun keluarganya? Seberapa sering mereka bertemu?
SUDAH CUKUP BELUM?
Membaca cerita teman-teman di atas, mungkin kita jadi mengerti, mengapa banyak orangtua yang anaknya masih remaja sering mengeluh karena keberadaan mereka yang jarang di rumah. Beberapa orangtua mengharapkan anaknya bisa membantu pekerjaan rumah, bisa mengantar saudara-saudaranya yang lain, atau hanya sekedar berkumpul bersama keluarga. Beberapa studi yang dilakukan peneliti mengatakan, bahwa kunci remaja untuk sukses adalah berkat dukungan keluarganya. Bahkan dikatakan, kenakalan remaja itu erat kaitannya dengan hubungan remaja tersebut dengan keluarganya. Kalau melihat dari remajanya sendiri, apakah mereka merasa waktunya dengan keluarga sudah cukup? Atau masih kurang?
Karena keluarga yang kadang sering berdebat dan ”perang dingin”, Ranty merasa waktunya dengan keluarga sudah cukup. ”Kalau ketemu keseringan malah seringnya berantem. Ada saja yang diperdebatkan. Jadi mendingan seperti sekarang. Asalkan orangtua terutama ibu tahu keberadaanku dimana, rasanya sudah cukup”, ujar Ranti. ”Karena aku senang memasak, rasanya waktuku dengan keluargaku kurang deh... Rasanya ingin memasak lebih banyak lagi untuk mereka, terutama ibuku”, kata Teja.
KUNCINYA KOMUNIKASIKomunikasi adalah fondasi sebuah keluarga. Remaja ingin dimengerti oleh orangtua, tapi sebaliknya apakah remaja juga mau mengerti orangtuanya? Kurangnya komunikasi, sering kali menyebabkan kesimpangsiuran untuk memahami tujuan orang tua. Seorang ayah berkata dengan tegas kepada anak remaja kesayangannya. "Mulai hari ini, kamu tidak boleh bergaul lagi dengan si A". Mendengar perintah tersebut, anak remaja tadi langsung marah". Dia berkata : "Ayah terlalu jahat. Selalu memaksakan kemauan sendiri, karena itu mulai hari ini aku juga tidak mau diatur lagi. Aku sudah besar". Mengapakah remaja itu marah? Ternyata, masalahnya terletak pada cara ayahnya menyampaikan perintah. Lain ceritanya kalau ayah tersebut berkata: "Mulai hari ini kamu tidak boleh bergaul dengan si A itu, karena dia seorang pemakai narkoba, nanti kamu ikut-ikutan". Apabila perintah itu disertai argumentasi, pasti si anak tidak marah. Di sini letak masalahnya. Remaja dan keluarga terutama orangtua, bisa menjadi sahabat yang baik. Apa kuncinya? Dibutuhkan saling pengertian dan kesediaan untuk memahami masing-masing pihak secara utuh. Mulai sekarang, bukan hanya orangtua yang harus belajar memahami anak remajanya, tapi juga bagaimana remaja memberikan pengertian dan membuka komunikasi dengan orangtuanya. Jangan malas untuk menceritakan apa yang kamu lakukan di luar rumah. Kalau perlu, bawa hasil kegiatanmu itu ke rumah. Berikan pengertian betapa kamu mencintai kegiatanmu dan hal itu dapat mengasah kreativitasmu. Keberadaanmu sebagai remaja yang aktif dengan segudang kegiatan bersama keluarga mungkin mulai bisa dipikirkan lagi. Tidak perlu kuantitas tapi kualitasnya. Entah itu membantu membersihkan ruang makan, menemani adik belajar, menjaga warung, atau hanya menonton TV bersama di malam hari. Mungkin kamu sebagai remaja tidak lagi harus mencari keberadaan orangtuamu seperti saat kamu di Taman Kanak-Kanak, tapi ingatlah bahwa apapun yang akan terjadi di hidup kamu kelak, keluargalah yang akan menjadi tempat pertama kamu datang. Kalau kamu ingin dimengerti, bersikaplah dewasa dengan caramu dan buktikan bahwa apa yang kamu lakukan di luar rumah adalah sesuatu yang berguna. Paling tidak untuk diri kamu sendiri dan lingkungan sekitarmu. Dan tentu saja nantinya untuk keluargamu. Foto: dokumentasi IYMC Kampung Halaman & pribadi narasumber
Berikan komentarmu untuk tulisan ini di kolom "Mari Berbincang" di halaman depan website ini. *Jangan lupa isi jumlah dari angka yang ada pada kolom Captcha, lalu tekan Send.
|